تفسير ابن كثير
Mengenal TAFSIR IBNU KATSIR Dan sejarah pengarangnya "Abul Fida’ Isma’il ibnu ‘Umar ibnu Katsir Al-Quraisy Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi Bermadzhab Asy-Syafi’i".

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim atau lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir ini adalah salah satu dari antara tafsir bil ma’tsur yang shahih, jika kita tidak mengatakan yang paling shahih. Di dalamnya diterangkan riwayat-riwayat yg diterima dari Nabi Saw. Dari Sahabat-sahabat agung dan Tabi’in. riwayat-riwayat yang dho’if yg terdapat di dalam tafsir Ibnu Katsir, di tinggalkan semuanya, di samping diberikan komentar-komentar yang sangat memuaskan.
Biografi Penulis
Beliau adalah pengarang tafsir Ibnu Kasir seorang yang dijuluki sebagai Al-Hafizh, Al-Hujjah, Muarrikh, Ats-Tsiqah Imaduddin Abul Fida’ Isma’il ibnu ‘Umar ibnu Katsir Al-Quraisy Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi Bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan Abu Al-Fida’. Ia lahir di sebuah desa yang bernama Mijdal daerah bagian Bushra pada thn 700 H/1300 M.
Dalam bidang hadits, beliau banyak menggali ilmu dari ulama-ulama Hijaz. Ia mendapatkan ijazah dari Al-Wani. Beliau juga dididik oleh pakar hadits ternama di Suriah yaitu Jamal Ad-Din Al-Mizzi (w, 742 H/ 1342 M), yang selanjutnya menjadi mertuanya sendiri. Dalam waktu yg cukup lama, beliau hidup di Suriah sebagai orang yang sederhana dan tidak terkenal. Popularitasnya dimulai kala dirinya terlibat dalam penelitian untuk menetapkan hukuman terhadap seorang zindiq yang didakwa menganut paham hulul (inkarnasi). Penelitian ini diprakarsai oleh Gubernur Suriah, Altunbuga Al-Nasiri di akhir th 741 H/ 1341 M.
Pada th 748 H/ 1341 M beliau menggantikan gurunya Muhammad ibn Muhammad Al-Zahabi (1284-1348 M) di sebuah lembaga pendidikan Turba Umm Salih. Setelah Itu beliau juga diangkat menjadi kepala lembaga pendidikan hadits di Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyah setelah Hakim Taqiuddin Al-Subki meninggal yaitu kepala terdahulu yg beliau gantikan. Setelah Itu di th 768 H/ 1366 M beliau diangkat jadi guru besar oleh Gubernur Mankali Buga di Masjid Umayah Damaskus.
Tidak Hanya itu, Dalam Al-Mu’jam Imam Dzahabi megungkapkan tentang Ibnu Katsir, “ adalah seorang imam, mufti, pakar hadits. Spesialis fiqih, ahli hadist yg cermat & mufassir yang kritis”. Lain halnya dengan Ibnu Hubaib yg menyebutnya sebagai, “ pemimpin para ahli tafsir, menyimak, menghimpun dan menulis buku. Fatwa-fatwa & ucapannya banyak didengar hampir diseluruh pelosok. Ibnu katsir banyak tersohor karena kecermatan dan tulisannya. Beliau adalah pakar dalam bidang sejarah, hadist & tafsir.
Sosok ulama seperti Ibn Katsir, benar-benar jarang kita temui, ulama yg lintas kemampuan dalam disiplin ilmu. Spesialisasinya tak cuma satu kategori ilmu saja. Tidak Hanya itu, beliau juga amat produktif dalam karya, sudah banyak karya-karya yg lahir dari tangan dan ketajaman berpikirnya.
Di antara karya-karya beliau adalah :
- “Tafsîr Al-Qur`an al-azhîm“.
- “al-Bidâyah wa al-nihâyah“.
- “al-Takmîl fî makrifati al_tsiqât wa al-dlu’afâ` wa- al majâhil”.
- “al-Hadyu wa al-sunan fî ahâdits al-masânid wa al-sunan atau; yg mashur dengan istilah jâmi’ al-masânid.
- “al-Kawakib al-darari”.
- “Tafsir Al-Qur’an; al-ijtihad fi Talab Al-Jihad.
- “al-Wahid Al-Nafis fi Manaqibil Imam Muhammad ibn Idris (Imam As-Syafi’i).
- “al-Sîrah al-nabawiyah”.
C. Sejarah Penulisan
وَإِذْأَخَذَاللَّهُمِيثَاقَالَّذِينَأُوتُواالْكِتَابَلَتُبَيِّنُنَّهُلِلنَّاسِوَلَاتَكْتُمُونَهُفَنَبَذُوهُوَرَاءَظُهُورِهِمْوَاشْتَرَوْابِهِثَمَنًاقَلِيلًافَبِئْسَمَايَشْتَرُونَ
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.”(QS. Ali Imran 187)
Dengan firman Allah di atas, maka menurut Ibnu Katsir wajib bagi ulama utk menjelaskan atau menyelidiki makna-makna yang terkandung dalam firman Allah dan tafsirya kemudian menggali dari sumber-sumbernya serta mempelajari hal tersebut dan mengajarkannya.
D. Metode Penafsiran
Jelas bahwa metode penafsiran Ibnu Kasir tersebut beliau aplikasikan dengan langkah-langkah penafsiran yg dianggapnya terbaik (ahsanul turuq al-tafsir). Dengan Cara garis besar langkah-langkah yang ditempuh Ibnu Kasir ialah; pertama, menyebutkan ayat yang ditafsirkannya, setelah itu beliau tafsirkan dengan bahasa yg gampang & ringkas. Jika dimungkinkan, beliau menjelaskan ayat tersebut dengan ayat lain. Selanjutnya membandingkannya maka maksudnya menjadi jelas. Seperti halnya ketika beliau menafsirkan kalimat هدىللمتقين (Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa) beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat 44 dari surat al-fushilat, ayat 82 dari surat Al-Isra’ & ayat 85 dari surat Yunus. Kedua, mengemukakan berbagai hadits atau riwayat yang disandarkan kepada Nabi SAW (marfu’) yg berhubungan dengan ayat yg beliau tafsirkan. Bukan sekedar mengemukakan haditsnya saja, melainkan beliau juga mengemukakan pendapat para sahabat, tabi’in dan para ulama’ salaf. Misalnya, saat beliau menampilkan banyak hadits utk menjelaskan kata ghibah dalam ayat ولايعتببعضكمبعضا, beliau menegaskannya dgn hadits Nabi yaitu ذكركأخاكبمايكره(kamu membicarakan saudaramu, dengan perkataan yg tidak disenanginya).Ketiga, mengemukakan bermacam macam pendapat mufasir atau ulama’ sebelumnya. Terkadang beliau menentukan pendapat yang paling kuat diantara pendapat para ulama’ yang dikutipnya.
Menurut kesepakatan para Dosen Tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga dalam Studi Kitab Tafsir menyebutkan bahwa Ibnu Kasir sering kali mengutip pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah pada level sahabat. Pada level tabi’in beliau tidak mengambilnya sebagai hujjah jika para tabi’in itu tidak terjadi kesepakatan dalam pendapat. Sedangkan pada level ulama’ yg sering dikutib oleh Ibnu Kasir dalam tafsirnya ialah pendapat Ibnu Jarir Al-Tabari.
E. Corak
Kitab ini dapat dikaegorikan sebagai salah satu kitab tafsir dgn corak dan orientasi (al-laun wa al-ittijah) tafsir bi al-ma’sur atau tafsir bi al-riwayah. Ini terbukti lantaran beliau sangat dominan dalam tafsirannya memakai riwayah atau hadits, dan pendapat sahabat & tabi’in. Dapat dikatakan bahwa dalam tafsir ini yg paling dominan ialah pendekatan normatif historis yg berbasis utama kepada hadits atau riwayah. Tapi Ibnu Kasir juga terkadang memakai rasio atau penalaran diwaktu menafsirkan ayat.
Adapun manhaj yg ditempuh oleh Ibnu Kasir dalam menafsirkan Al-Qur’an dapat dikategorikan sebagai manhaj tahlili (metode analitis). Kategori ini dikarenakan penafsinya ayat demi ayat secara analitis menurut urutan mushaf Al-Qur’an. Walaupun demikian, metode penafsiran kitab ini pun dapat dikatakan semi tematik (maudu’i), sebab ketika menafsirkan ayat beliau mengelompokkan ayat-ayat yg masih dalam satu konteks pembicaraan ke dalam satu tempat baik satu atau beberapa ayat, kemudian beliau menampilkan ayat-ayat yang lain yg terkait untuk menjelaskan ayat yang sedang ditafsirkan itu.
F. Sistematika
Tafsir ini disusun oleh Ibnu Katsir berdasarkan sistematika tertib susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf Al-Qur’an, yg lazim disebut sebagai sistematika tartib mushafi. Kitab Ibnu Katsir ini perhatiannya sangat besar kepada masalah tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an (menafsirkan ayat dengan ayat). Tafsir ini adalah tafsir yg paling banyak memuat atau menjelaskan ayat-ayat yg bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadits-hadits marfu’ yg relevan dengan ayat yang sedang ditafsirkan, menjelaskan apa yang menjadi dalil dari ayat tersebut. Setelah Itu diikuti dengan atsar para sahabat, pendapat tabi’in dan ulama salaf sesudahnya.
G. Komentar Ulama’ dalam Kelebihan dan Kekurangan
Rasyid Ridha berkomentar, “Tafsir ini merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap riwayat-riwayat dari para mufassir salaf, menjelaskan makna-makna ayat dan hukumnya, menjauhi pembahasan masalah I’rab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufassir, menghindar dari pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yg tidak diperlukan dalam memahami Al-Qur’an secara umum atau hukum & nasehat-nasehatnya secara khusus.”
Kelebihan lain dari tafsir Ibnu Katsir adalah :
a. Perhatian yang sangat besar dengan penafsiran antara Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.
b. Merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian di ikuti dengan penafsiran ayat dengan hadis marfu’ yang ada relevansinya dengan ayat yg sedang di tafsirkan serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti dengan atsar para sahabat & pendapat tabi’in dan ulama’ salaf.
c. Disertakan selalu peringatan akan cerita-cerita israilliyyat yang tertolak yang banyak tersebar di dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur.
d. Bersandar pada riwayat-riwayat dari sabda Nabi Saw, para sahabat dan tabi’in.
e. Keluasan sanad-sanad dan sbda-sabda yang diriwayatkan serta tarjihnya akan riwayat-riwayat tersebut.
f. Penguasaan terhadap ayat-ayat nasikh mansukh, serta penguasaannya terhadap shahihnya riwayat.
g. Penjelasannya dalam segi i’rab, dan istimbatnya tentang hukum-hukum syar’i & ayat-ayat Al-Qur’an.
h. Menjadi literatur mufassir setelahnya, telah dicetak dan disebarkan ke segala penjuru dunia.
i. Tidak mencantumkan perdebatan golongan dan madzhab, serta mengajak pada persatuan dan mencari kebenaran bersama.
Menurut kesepakatan para Dosen Tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga dalam Studi Kitab Tafsir menyebutkan bahwa Ibnu Kasir sering kali mengutip pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah pada level sahabat. Pada level tabi’in beliau tidak mengambilnya sebagai hujjah jika para tabi’in itu tidak terjadi kesepakatan dalam pendapat. Sedangkan pada level ulama’ yg sering dikutib oleh Ibnu Kasir dalam tafsirnya ialah pendapat Ibnu Jarir Al-Tabari.
E. Corak
Kitab ini dapat dikaegorikan sebagai salah satu kitab tafsir dgn corak dan orientasi (al-laun wa al-ittijah) tafsir bi al-ma’sur atau tafsir bi al-riwayah. Ini terbukti lantaran beliau sangat dominan dalam tafsirannya memakai riwayah atau hadits, dan pendapat sahabat & tabi’in. Dapat dikatakan bahwa dalam tafsir ini yg paling dominan ialah pendekatan normatif historis yg berbasis utama kepada hadits atau riwayah. Tapi Ibnu Kasir juga terkadang memakai rasio atau penalaran diwaktu menafsirkan ayat.
Adapun manhaj yg ditempuh oleh Ibnu Kasir dalam menafsirkan Al-Qur’an dapat dikategorikan sebagai manhaj tahlili (metode analitis). Kategori ini dikarenakan penafsinya ayat demi ayat secara analitis menurut urutan mushaf Al-Qur’an. Walaupun demikian, metode penafsiran kitab ini pun dapat dikatakan semi tematik (maudu’i), sebab ketika menafsirkan ayat beliau mengelompokkan ayat-ayat yg masih dalam satu konteks pembicaraan ke dalam satu tempat baik satu atau beberapa ayat, kemudian beliau menampilkan ayat-ayat yang lain yg terkait untuk menjelaskan ayat yang sedang ditafsirkan itu.
F. Sistematika
Tafsir ini disusun oleh Ibnu Katsir berdasarkan sistematika tertib susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf Al-Qur’an, yg lazim disebut sebagai sistematika tartib mushafi. Kitab Ibnu Katsir ini perhatiannya sangat besar kepada masalah tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an (menafsirkan ayat dengan ayat). Tafsir ini adalah tafsir yg paling banyak memuat atau menjelaskan ayat-ayat yg bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadits-hadits marfu’ yg relevan dengan ayat yang sedang ditafsirkan, menjelaskan apa yang menjadi dalil dari ayat tersebut. Setelah Itu diikuti dengan atsar para sahabat, pendapat tabi’in dan ulama salaf sesudahnya.
G. Komentar Ulama’ dalam Kelebihan dan Kekurangan
Rasyid Ridha berkomentar, “Tafsir ini merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap riwayat-riwayat dari para mufassir salaf, menjelaskan makna-makna ayat dan hukumnya, menjauhi pembahasan masalah I’rab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufassir, menghindar dari pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yg tidak diperlukan dalam memahami Al-Qur’an secara umum atau hukum & nasehat-nasehatnya secara khusus.”
Kelebihan lain dari tafsir Ibnu Katsir adalah :
a. Perhatian yang sangat besar dengan penafsiran antara Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.
b. Merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian di ikuti dengan penafsiran ayat dengan hadis marfu’ yang ada relevansinya dengan ayat yg sedang di tafsirkan serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti dengan atsar para sahabat & pendapat tabi’in dan ulama’ salaf.
c. Disertakan selalu peringatan akan cerita-cerita israilliyyat yang tertolak yang banyak tersebar di dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur.
d. Bersandar pada riwayat-riwayat dari sabda Nabi Saw, para sahabat dan tabi’in.
e. Keluasan sanad-sanad dan sbda-sabda yang diriwayatkan serta tarjihnya akan riwayat-riwayat tersebut.
f. Penguasaan terhadap ayat-ayat nasikh mansukh, serta penguasaannya terhadap shahihnya riwayat.
g. Penjelasannya dalam segi i’rab, dan istimbatnya tentang hukum-hukum syar’i & ayat-ayat Al-Qur’an.
h. Menjadi literatur mufassir setelahnya, telah dicetak dan disebarkan ke segala penjuru dunia.
i. Tidak mencantumkan perdebatan golongan dan madzhab, serta mengajak pada persatuan dan mencari kebenaran bersama.
Klik di sini
atau terjemahnya



Tujuan saya membuat blog sederhana adalah untuk menuangkan ide-ide, pengalaman, ilmu yang saya dapatkan, yang kadang sering terbuang jika saya tidak menulisnya dan juga saya ingin membagikan ide, pengalaman, dan ilmu saya kepada para pengnjung blog saya, jika anda memesan sesuatu kaitannya dengan blog saya atau anda menginginkan agar menampilkan sesuatu pada blog saya ini silahkan dan Insya Allah saya akan lakukan selagi diberi kemampuan oleh Allah dan jika ada kesalahan atau kekurangan silahkan komentari saya dengan cara Islami/sopan santun
0 komentar:
Post a Comment